Kumcer 'Disleksia'


buku pertama kami

harga Rp 3.000

pemesanan 08 5714 44 5724

Kontributor Disleksia

Berikut ini kontributor-kontributor dalam antologi cerpen ‘Disleksia’

CERPENIS:
Abraham Zakky Zulhazmi (Di Beranda)
Sagatma (Dia Mencarimu)
Ageng Ad-Dhoif (Tepi Asa)
Askara Laksmi (Refleksi)
Abimanyu (Tak Ada Cinta di Jakarta)
Muhammad Romzul Islam (Hikayat Batu, Daun dan Air)
Cindy Riyanika (Maaf)
Alfian Faisal (Sumbangan)
Shinjie (Bintang Redup)
Ajeng Arini Putri (Disleksia)

EDITOR: Arief Mahmudi
EPILOG: Haris Firdaus

Ketik Pocketmagz: The Soft Concept

Menyebar luaskan tulisan adalah memperjuangan pemikiran. Begitulah kiranya nasihat seseorang beberapa hari kemarin. Intinya, menulis tak boleh sembarang asal menulis. Musti ada pesan tersirat maupun tersurat yang disampaikan kepada pembaca. Seyogyanya, pesan tersebut harus selalu berkisar pada ranah kebenaran. Bukan sekedar mengejar estetika dan lantas memarjinalkan esensi. Berkaca pada hal itu, desakan untuk menelurkan sebuah media sebagai ‘corong’ sekaligus piranti sosialisai komunitas sudah tak bisa ditahan lagi. Meski secara formalitas, penerbitan media ini hanya sebatas pengguguran kewajiban dari program kerja yang dicanangkan.

Nah, KETIK yang hampir setahun berlatih berjalan dan berbicara di kancah kepenulisan Kota Solo, sudah selayaknya mampu mengaktualisasikan karya mereka.. Kali ini opsi yang ditawarkan adalah penerbitan Pocketmagz. Adapun edisi pertama (introduction edition) tidak dipakai sebagai acuan edisi-edisi berikutnya. Dipakainya istilah ‘pocketmagz’ dilandasi keinginan untuk sebisa mungkin menghindari kesamaan penyebutan media sejenis. Sedangkan slogan ‘not just a pocketmagz’ menyimpan harapan agar kelak media ini tidak sekedar sebuah majalah saku yang biasa kami temui di pasaran, melainkan media dengan ‘aroma khas’ di setiap tulisan yang dimuat, desain grafis yang menunjangnya dan misi yang diembannya.

Tidak dipungkiri bahwasannya, Minimagz OpenMind yang beberapa waktu lalu hadir di hadapan kami memberikan banyak influence bagi konsep yang ditawarkan ini. Dua kelebihan OpenMind yang coba kami adopsi adalah desain grafis dan gaya bahasa. Jika dicermati, desain grafis OpenMind begitu senada dengan segmen pasar pembaca sasaran mereka. Ke depan, KETIK Pocketmagz mencoba menghadirkan grafis yang meremaja yang sedikit banyak berkaca pada OpenMind. Lantas gaya bahasa KETIK Pocketmagz dibawakan dengan bahasa remaja yang santai dan cenderung slengekan namun tidak kehilangan substansi makna tulisan. Dua hal tesebut ditujukan agar KETIK Pocketmagz bisa lebih membumi di kalangan remaja, pelajar SMP dan SMA khusunya.

Selanjutnya, corak tulisan KETIK Pocketmgaz adalah ‘tulisan perlawanan’. Jadi tulisan kami tak ubahnya ‘demonstrasi’ dalam bentuk cerpen, sajak, resensi, biografi atau esai. Akan tetapi demonstrasi yang kami lakukan adalah demonstrasi yang tertib, terarah, tidak frontal dan pastinya menawarkan solusi bagi setiap fenomena yang kami respon. Misalnya, untuk edisi terdekat kami membahas olahraga di sekolah. Kami coba angkat ke permukaan isu-isu seputar olahraga di sekolah dan kemudian meresponnya. Sebagai contoh, mengapa siswa berprestasi di bidang olahraga cenderung kurang diperhatikan daripada siswa berprestasi di bidang akademik. Mengapa fasilitas dan sarana prasarana olahraga di sekolah tidak mencukupi. Mengapa pula anak-anak yang gemar berolahraga kadang lupa tugasnya sebagai siswa. Nah, fenomena itu coba kami ulas dengan tajam, kritis, objektif dan tetap memberikan solusi aplikatif.

Ini hanyalah sekedar soft concept alias konsep lunak. Masih sangat besar kemungkinan untuk ditambah dan dikurangi. Semuanya lagi-lagi diserahkan kepada forum. Selamat berjuang KETIK!

Ponorogo, Penghujung Mei 2008
Abraham Zakky Zulhazmi

‘Bikin Batik’ di Pendopo Sriwedari

Semboyan ‘meniti masa bersama aksara’ ternyata benar-benar melekat pada Komunitas Ketik. Komunitas yang belum lama berdiri ini, pada 28 Juni 2008 menggelar acara Bincang-Bincang Kreatif Menulis Bareng Ketik (Bikin Batik) bekerjasama dengan majalah OpenMind. Mengambil tempat Pendopo Sriwedari, acara ini diikuti sekitar 30 pelajar SMP-SMU di Solo.

Tema ‘Writing Tresno Jalaran Soko Kulino’ yang diusung panitia rupanya cukup mendapat tempat di hati para peserta. Terlihat dari semangat peserta ketika berdiskusi dengan pembicara. Ali Mufti (Jakarta) dan Oleh Solihin (Bogor) yang menjadi pembicara pagi itu tak kalah bergairah menanggapi pertanyaan peserta Bikin Batik yang rata-rata adalah redaksi majalah sekolah.

Selepas pembagian doorprize dan penutupan acara, kedua pembicara mengaku kagum dengan semangat teman-teman muda Solo, terlebih dengan kehadiran Komunitas Ketik. Mereka juga mengacungkan jempol untuk Kota Solo yang menurut mereka sangat unik, ramah dan eksotis. Di acara yang sempat ditunda beberapa kali pelaksanaannya ini, Ketik sekaligus melaunching edisi perdana Ketik Pocketmagz. “Menyelenggarakan acara ini cukup menyita waktu, tenaga dan pikiran. Namun, pengalaman yang didapat begitu banyak dan menggembirakan,”celetuk Faisal, ketua panitia Bikin Batik.